Arti Sebuah Profesionalitas dalam Sepakbola Indonesia?

Oleh: RK Palawan*

Akhir-akhir ini kita sering mendengar perdebatan yang sengit mengenai satu topik salam dunia persepakbolaan Indonesia, yang menurut pandangan sebagian orang merupakan alasan bergulirnya sebuah kompetisi tandingan Indonesia Super Liga (ISL) yaitu Liga Primer Indonesia (LPI) yang digagas seorang pengusaha kaya pribumi. Sebenarnya apa sih makna dari kata profesionalitas dalam sepakbola dan apakah kita semua telah benar-benar memahaminya? Saya sendiri bukan seorang ahli bahasa maupun pengamat sepakbola berpengalaman, namun saya mencoba mengeluarkan unek-unek terkait makin meruncingnya perseteruan antara dua kompetisi ini.

Sebelumnya mungkin kita bisa sepakat bahwa Profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian atau keterampilan dari pelakunya. Profesional adalah orang yang menyandang suatu jabatan atau pekerjaan yang dilakukan dengan keahlian atau keterampilan yang tinggi. Hal ini juga pengaruh terhadap penampilan atau performance seseorang dalam melakukan pekerjaan di profesinya.

Profesionalisme merupakan komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuannya secara terus menerus. Profesionalisasi adalah proses atau perjalanan waktu yang membuat seseorang atau kelompok orang menjadi profesional. Profesionalitas merupakan sikap para anggota profesi benar-benar menguasai sungguh-sungguh kepada profesinya.

Saya tidak akan mencoba untuk mengkait-kaitkan pengertian diatas dengan kondisi persepakbolaan kita saat ini, karena saya yakin masih banyak diantara kita yang lebih “jago” dari saya untuk melakukannya. Saya hanya ingin berbagi kalau saya cukup heran dan merasa lucu dengan berita yang barusan saya baca di media internet.

Menurut situs republika.co.id pada 8/2/2011 menulis bahwa Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) sampai detik ini masih menganggap ISL belum profesional, dengan alasan belum sesuai dengan kriteria Undang Undang (UU) nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Berdasarkan UU tersebut, semua kompetisi olahraga yang ingin profesional itu harus melalui izin BOPI. ISL, kata Gordon Mogot (Ketua BOPI), sejauh ini sama sekali belum mendaftarkan diri ke BOPI sehingga kompetisi tersebut belum bisa dibilang profesional.

Lucunya, selama ini BOPI menganggap ISL merupakan kompetisi semi-profesional, sedangkan jelas-jelas lagi tercantum dalam undang-undang tersebut hanya ada dua tingkatan kompetisi olahraga di Indonesia, yaitu Porfesional dan Non-Profesional. Lebih lucunya lagi, BOPI justru membiarkan keadaan ini berlangsung sampai sekarang dengan alasan tidak mau ribut-ribut dengan PSSI sebagai pembina ISL, padahal kan BOPI merupakan perpanjangan tangan pemerintah…???

Dan sekarang permasalahan yang dihadapi semakin rumit setelah bergulirnya LPI, liga profesional yang terdaftar di BOPI namun tidak diakui PSSI. Permasalah tersebut adalah terancamnya hampir  semua pemain asing yang berlaga di LPI dideportasi ke negara masing-masing karena semuanya belum memiliki Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS). Kenapa? karena menurut aturan, pengurusan KITAS untuk pemain sepakbola profesional harus mendapatkan rekomendasi dari PSSI, dan itu tidak mungkin didapatkan oleh pemain, setidaknya dalam waktu dekat ini.

Semakin rumit ternyata permasalahan yang terjadi di dunia persepakbolaan tanah air kita, dan saya yang hanya sebagai seorang suporter merasa tidak bisa berbuat apa-apa selain berkeluh kesah melalui tulisan ini. Semoga saja Tuhan memperlihatkan kekuasaannya sehingga dalam waktu dekat sepakbola Indonesia bisa berubah menjadi seperti apa yang kita semua cita-citakan walaupun saya tidak bisa terlibat secara langsung dalam perubahan tersebut.

Salam Sanak saKampuang.

SASAKA Raya Banten.

*Penulis adalah salah satu anggota SPARTACKS Jorong Raya Banten

Rieko SP

Aku hanya seorang suporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *