Bola Dan Covid19

Penulis : Eko Kurniawan, penyuka literasi bola
Tulisan ini bukan untuk membela para penonton yang haus tontonan pertandingan sepak bola. Lebih pada bentuk rasa kecintaan pada kehidupan pesepak bola kita yang lagi vakum alias stay home di rumah masing masing. Lebih pada kesannya bagaimana nasib pesepak bola dan keluarganya. Untuk Corona Virus Disease (COVID19) kita banyak melihat pemberitaan tiap hari bahkan tiap detik selalu menghiasi layar kaca, jagad dunia maya dan sebagainya. Oleh karena itu pertimbangan kita supaya pesepak bola juga perlu diberi kesempatan bicara lebih rasa kemanusiaan untuk Covid19 kita banyak melihat pemberitaan tiap hari bahkan tiap detik selalu menghiasi layar kaca, jagad dunia maya dan sebagainya. Oleh karena itu pertimbangan kita supaya pesepak bola juga perlu diberi kesempatan bicara lebih rasa kemanusiaan untuk menjalankan kehidupan sehari-hari.
Saya pernah membaca postingan kawan kawan pesepak bola ‘’Selesai aja bang.. Terus kalo udah tidak ada virus lagi ditahun ini bisa dibuat kaya Piala Presiden gitu aja biar kita bermain lagi bang’’ salah satu pemain Semen Padang FC di melalui media wathsapp (WA). Persoalan kini belum adanya jaminan kepastian  kapan pandemi Covid19 akan berakhir?
Ini jadi pertanyaan pemain sepak bola secara keseluruhan ketika ingin bertanya bagaimana pesepakbola ke depan pasca Covid19? Ketika dilempar ke pemangku kepentingan, menunggu corona dulu katanya. Dilema juga kalau kompetisi tetap dijalankan. Opsi pertandingan tanpa penonton, juga riskan diadakan. Apalagi hadirnya penonton ke stadion, makin lebih fatal resikonya.
Alternatif lainnya kompetisi dianggap selesai dan dilanjutkan dengan sistem turnamen. Ini juga opsi lagi hot alias lagi hangat dibincangkan dikalangan para menagemen tim, pemain dan fans. Turnamen lebih aman dibanding kompetisi tetap jalan. Karena turnamen dengan waktu yang pendek, dan pengeluaran tim bisa dipangkas. Pemain pun tetap terima bayaran. Penonton tetap terhibur. Hak siar juga kembali dapat orderan iklan.
Bicara pesepak bola rasanya kurang lengkap tanpa operator liga. Pertama Membuat kebijakan tentu dari yang membuat kompetisi. Kedua, induk organisasi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) telah memberikan mandat kepada operator liga untuk menjalankan roda kompetisi mulai Liga 1, Liga 2 sampai level bawah.
Menurut operator liga, mereka telah memutuskan sejak pertandingan terakhir pada 15 Maret 2020. Bahwa kompetisi mulai dari Liga 1 dan Liga 2 yang baru menjalankan pertandingan perdana. Besoknya pada hari senin,16 Maret 2020 Liga 1 dan Liga 2 resmi ditunda alias berhenti untuk sementara waktu.
Sampai tulisan ini dibuat, pemangku kebijakan PSSI, operator liga masih kukuh dengan putusan yang telah diambil. Bahkan kontrak alias gaji pemain ada pemotongan dengan jumah mencapai 25 persen. Dan dari informasi yang didapat pembayaran gaji hanya akan diterima oleh pemain hanya tiga bulan. Mulai Maret sampai Juni.
Persoalan kontrak dan gaji pemain sempat mencuat di PSKC Cimahi. Salah satu pemainnya Atep mempertanyakan kontrak atau gaji yang belum dibayarkan. Pihak PSKC pun tak tinggal diam. Klub asal Kota Cimahi Jawa Barat ini kabarnya membawa masalah ke meja hijau. Tapi, persoalan itu sudah mulai  nampak titik terangnya. Kini tinggal bagaimana masing-masing pihak menterjemahkan maksud dan tujuan isi kontrak.
Selain persoalan kontrak, isu lain mulai kepermukaan. Pertama, pemain sudah kehabisan bekal tabungan alias duit makin berkurang. Kedua, jaminan klub untuk memenuhi kewajiban bayar kontrak dengan durasi yang telah disepakati, makin kabur dan seolah-olah pemain siap untuk dikorbankan demi kestabilan keuangan. Disini akan banyak pemain pesepak bola harus muter otak, jika seandainya di tengah pandemi Covid19 ini kontrak diputus ditengah jalan.
Covid19, musti bijak kita melihat dengan kacamata secara ekonomi, social, bahkan budaya. Pada dasarnya orang Indonesia belum siap untuk menghadapi corona. Karena banyak menganggu aktivitas utama aliaspekerjaan. Pekerjaan pesepak bola jadi ikut terasa makin berat. Harapannya hanya satu jika tak ada games, tak ada money. Mau uang, maka harus ada pertandingan. PSSI, mohon beri kebijakan yang berpihak kepada pemain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.