Kado ‘’Terburuk’’ Untuk Kabau Sirah

Oleh:Eko Kurniawan

Tim kebanggaan urang awak kabau sirah Semen Padang FC (SPFC) harus menelan pil pahit. Di musim Liga 1 2017 merasakan ketatnya persaingan dan harus terjun bebas ke Liga 2. Pascamenang vs PS TNI 2-0 di lagake- 34 (laga hidup mati) Minggu 12 November 2017 di kandang Stadion H Agus Salim Padang, nasib berkata lain, anak asuh Syafrianto Rusli menerima nasib terburuk jadi tim terakhir yang terdedagrasi. Sungguh miris, ya nasib SPFC musim ini jadi kado ‘’terburuk’’ sepanjang masa sejarah tim yang telah berdiri sejak 30 November 1980 silam.
Kado ulang tahun ke-37 hanya sekadar mengingat sejarah. Prestasi musim ini bisa dikatakan paling terburuk, kalau saya menggunakan istilah anonim terbaik-terburuk. Tapi, penilaian saya tentu ada beberapa alasan.
Pertama, dari segi materi skuad, tim bukit Indaruang ini cukup mumpuni. Kenapa kok jeblok jauh dari harapan kualitas mainnya? Padahal sudah bisa mendatang pemain sekelas Didier Zokora. Lagi-lagi gigit jari saya melihatnya. Harga seorang Zokora kabarnya mampu membeli 11 pemain muda berkualitas.
Kedua, menajemen yang kurang peka. Sudah rahasia umum, Pengaruh menajemen dalam hal teknis sangat besar ikut campur. Membeli pemain ibarat membeli kucing dalam karung. Akibatnya ketika putaran kedua, hanya mampu membeli pemain yang bisa disebut ala kadarnya, dari pada tidak.
Pemerhati dan pedukung setia sudah mewanti-wanti ketika baru laga awal di putaran kedua. Harus berubah dan berbenah. Warning sudah diberikan. Aba-aba klakson malah dianggap angin lalu. Akibatnya sama-sama kita lihat bersama.
Ketiga, pelatih yang keras kepala. Di sini saya menyayangkan kenapa Nil Maizar terlalu keras kepala. Ketika desakan mundur dari pencinta Kabau Sirah, malah dia sok belagu. ‘’seharusnya penonton memberikan dukungan, ketika tim lagi terpuruk,’’ ujarnya dalam suatu konferensi pers usai pertandingan.
Memang tak salah apa dibilang Nil.Namun, kenapa jiwa ksatria Nil tak Nampak ketika tim babak belur lawan Madura United 0-6. Jika seandainya Nil mau berjiwa besar untuk mundur usai vs Madura United, saya rasa mungkin SPFC mampu bertahan di Liga 1.
Nasi sudah jadi bubur, mau bilang apa? Kalau ingin minta regulasi lebih mudah atau dilabrak itu urusan menajemen. Menajemen ‘’minta ampun’’ ke PSSI, agar musim depan format liga kembali berubah. Maunya menajemen saja. Ini ‘’dosa-dosa’’ terdahulu atau malah ini ibarat mendaki, ini puncak segala perbuatan menajemen. Lewogo mah bisa saja, tapi malunya tu lho, disini!!
Menajemen dalam hal ini baca pengurus, bukan tak bekerja baik. Hanya saja, orang yang berkompeten mengurus sepak bola maaf menyebut kurang di ajak kerja sama. Kini turun kasta dalam kompetisi lumrah terjadi. Banyak faktor penyebabnya. Kalau ingin cari kambing hitam seh bisa.
Tak elok rasanya terpuruknya tim disalahkan semuanya ke pihak menajemen. Pemain, pelatih, menagemen sudah bekerja sungguh-sungguh. Buktinya di jensey pemain berjibun sponsor. Suporter juga sudah mulai sadar bahwa pemasukan tim bukan saja tiket, tapi juga lewat kostum.
Berkaca di musim 2008. Ketika itu SPFC tak masuk ke dalam peringkat Sembilan besar di Liga Indonesia ketika itu berjudul liga Djarum. Akibatnya di musim 2009 harus menerima kenyataan main di Divisi Utama alias kasta kedua. Berselang semusim, tim yang diarsiteki couch Arcan Iurie mampu kembali ke kasta tertinggi Liga Indonesia setelah mampu mengalahkan Persiram Raja Empat (tim ini bernama PS TNI kini, karena lisensinya dibeli) 1-0 di laga perebutan juara ketiga 10 Mei 2010 di Solo.
Ya kalau ingin bangkit ya dimulai hari ini, jadikan momentum ulangtahun ke-37 untuk menyusun skuad terbaik. Liga 2 musim 2018 diperkirakan bergulir bulan Maret atau April. Seandainya tim ini tak absen di Piala Walikota Padang atau Piala Presiden, latihan harusnya sudah mulai.
Selamat mengingat sejarah. 30 November 1980-30 November 2017. Mau bangkit atau malah semakin terpuruk? Hanya mampu dijawab dengan pembuktian prestasi rebut kembali tiket ke Liga 1. Sejarah tak selalu manis dikenang, ini lembaran sejarah kelam SPFC di musim paling terburuk 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *