Perubahan Itu Suatu Keniscayaan, Termasuk Sepakbola

Oleh: Rakhmatul Akbar
Dalam menghadapi perkembangan zaman, orang bijak selalu memahami bahwa perubahan itu adalah sebuah keniscayaan. Perubahan itu, terjadi di semua lini. Ilustrasi yang dekat dengan kita adalah, sarana transportasi umum di Padang.

Awal dekade 1980-an, warga mengenal angkutan bernama Patra. Seiring berjalannya waktu, Patra tersisih dan muncullah Bus Kota. Perlahan, giliran Bus Kota yang tergeser. Posisinya tergantikan oleh Trans Padang yang makin mendapat di tengah masyarakat. Belum lagi angkot yang perlahan mulai tergencet oleh kehadiran angkutan berbasis aplikasi, kendati masih dianggap ilegal.

Lalu, bagaimana dengan sepakbola? Pun demikian. Sektor ini juga mengalami perubahan dari masa ke masa yang mendorong setiap komponen untuk jadi bagian dalam perubahan. Tak berubah, berarti anda tertinggal. Masih ingat dengan taktikal kick and rush ala Inggris yang sempat memukau di eranya? Namun, perlahan, taktikal seperti itu pun tak terpakai lagi. Seiring berjalannya waktu, kita mengenal taktik sepakbola Total Football ala negeri kincir angin, Belanda. Momen ini sempat membuat Belanda menjadi salah satu tim yang paling disegani didunia kala itu.

Lambat laun, Total Football-pun mulai ditinggalkan. Dengan dukungan perkembangan teknologi dan sains, sepakbola tak lagi sekedar mengejar gol dengan keringat tercurah-curah. Seiring dengan itu, lahir teknik sepakbola ala Spanyol yang sempat terasa begitu mengesankan, tiki-taka. Hasilnya, negeri Matador itu menjadi penguasa sepakbola sejagad. Sepanjang 2008 (Juara Eropa), 2010 (Juara Dunia) dan 2012 (Juara Eropa), mereka menggenggam mahkota. Setelah itu, era tiki taka berakhir ditandai dengan kegagalan Spanyol di Piala Dunia 2014. Di sini, tiki taka Spanyol diredam oleh Pressing ketat ala Jerman.

Masih di sepakbola, kita mendekat ke Indonesia. Teranyar coach Indra Sjafri sukses memperkenalkan teknik Pepepa (pendek pendek panjang). Taktikal yang diterapkan Evan Dimas Cs itu sukses mengakhiri puasa gelar negeri ini di tingkat regional pada tahun 2013. Terakhir, Indonesia meraih gelar di tingkat Asia Tenggara tahun 1991 lalu melalui medali emas cabang sepakbola di SEA Games Filipina.

Namun, magis Indra Sjafri yang sempat mengubur Korea Selatan dengan skor 3-2 pada penyisihan Piala AFC U-19 di Jakarta tahun 2013 itu terhenti di ajang Piala AFC 2014. Daya pikat Evan Dimas Cs tak mampu menyelamatkan Timnas Muda di level Asia. Mereka tak berkutik. Seluruh lawan yang mereka hadapi di fase grup, mampu meredam agresivitas anak asuh Indra Sjafri.

Tahun ini, Indra Sjafri kembali hadir dengan gerbong barunya. Era Egi Maulana Vikri. Sama dengan era Evan Dimas, kehadiran Egi Cs bak menyedot memori lama dengan magis pepepa-nya. Tapi, pada masa ini, tentunya Indra Sjafri bisa belajar dengan masa lampau agar punya plan A, Plan B hingga Plan C dalam meracik strategi Egi Cs. Hal ini penting, agar nantinya, tim lawan yang mulai memperhatikan tim ini, tak mudah untuk menghentikan Timnas U-19.

Makin dekat dengan kita adalah Semen Padang FC. Tim kecintaan publik Sumbar dalam laga-laga terakhir seperti sempoyongan. Empat laga terakhir Kabau Sirah seperti kehabisan rumput. Energi tim tak kuasa melompat tinggi menyusul hasil buruk di empat laga minus laga Persib Bandung. Vendri Mofu Cs cuma mampu melesakkan dua gol. Sebaliknya, gawang Jandia remuk redam dicecar lawan. Tujuh gol bersarang sejak pekan 19 Liga1 2017. Dengan style standart yang mereka miliki, Semen Padang seperti kehabisan akal karena taktik coach Nil Maizar masih seperti itu-itu saja. Taktikalnya sudah terbaca lawan dan sempat disindir coach Iwan Setiawan dari Borneo.

Karenanya, dari perjalanan yang tak pendek, mungkin ini saatnya Semen Padang berubah. Dalam perjalanan tim ini di liga elit Indonesia, di tangan Nil Maizar Semen Padang pernah mengejutkan ranah sepakbola negeri ini dengan finish di peringkat empat ISL 2010/2011. Seperti memberikan magis, Nil juga pernah mengantarkan Semen Padang meraih bintang di dada setelah tampil sebagai juara IPL 2011/2012.

Dari sana, ia dilirik federasi untuk menangani Timnas. Di tengah konflik saat itu, nasionalisme Nil yang begitu tinggi, tim besutannya tampil tak buruk-buruk amat. Meski gagal di AFF 2012, ia memecahkan kebuntuan Timnas dengan mengalahkan Singapura yang terasa begitu sulit dikalahkan di laga-laga sebelumnya. Di penyisihan Piala Dunia 2014 zona Asia, ia bahkan sempat menyulitkan Irak.

Lepas dari Timnas, sebagai pelatih ia sempat berlabuh di Persisam Putra Samarinda. Hasilnya, juga luar biasa. Nil menyelamatkan tim asal Kalimantan itu dari zona degradasi di ISL 2014 dan finish di papan tengah. Nil hadir seperti memberikan warna baru di tim itu hingga mampu mendongrak tim berjuluk Pesut Mahakam itu. Sebagai catatan, jika saja saat itu Persisam Putra Samarinda terdegrasi, mungkin kisah soal Bali United akan berbeda.

Dan begitu kembali ke Semen Padang, ia juga membuat kejutan. Jadi finalis turnamen pengisi kompetisi Piala Jenderal Sudirman 2016 dan Semifinalis Piala Presiden 2017. Berangkat dari perkembangan itu semua, Nil dan Semen Padang akhirnya jadi perhatian banyak orang. Tim ini diteliti benar kekuatannya oleh lawan hingga akhirnya mereka mampu mengetahui karakter tim ini. Tapi sayang, sepertinya Nil tak punya antitaktik menghadapi cermatan banyak lawan.

Karenanya, jika kita kembali ke tema awal, perubahan adalah sebuah keniscayaan, maka Semen Padang mau tak mau harus mengikuti perkembangan. Dan sebagai seorang pelatih yang punya daya magis, Nil hendaknya tak menghadang zaman. Mungkin, ini saatnya ia harus meng-up grade pengetahuan soal kepelatihan dan sepakbola.

Bekal sertifikat A AFC yang lama ia kantongi, harusnya ditambah untuk lebih menyesuaikan dengan perkembangan zaman, perkembangan sepakbola. Bekal itu menjadi pintu masuk ke level atau ilmu kepelatihan yang lebih tinggi. Germany Connection yang ia miliki tentunya akan bisa membuka jalan belajar lebih dalam di Eropa sana. Dan begitu kembali, Nil akan punya Magis-magis baru yang akan membuat publik sepakbola Indonesia tercengang lagi. (*)

 

*Penulis merupakan wartawan olahraga harian Haluan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *