Amati Lemahnya Semen Padang FC Lewat Statistik

Oleh : Rakhmatul Akbar

Sepakbola itu ilmiah, terutama di sepakbola modern. Ada kajian-kajian terhadap kondisi tim sepakbola dengan landasan ilmu pengetahuan, salah satunya statistik. Catatan statistik tim dalam setiap laga, menjadi pegangan bagi tim pelatih untuk mengambil keputusan menghadapi laga berikutnya.
Jika kita perhatikan dalam setiap laga sepakbola, di akhir setiap babak ada catatan terhadapi statistik tim, bukan personal. Catatan statistik mulai dari penguasaan bola, tendangan melenceng, tendangan ke arah gawang, hingga tendangan sudut. Lalu, ada juga koleksi kartu kuning dan kartu merah.
Namun, ada statistik lain yang tak dipaparkan secara detail dalam setiap laga, seperti tekle sukses, operan sukses hingga jauh berlari seorang pemain. Mungkin, karena ini catatan individu, maka tak lazim ditampilkan di televisi. Bahkan, catatan seberapa jauh seorang pemain berlari juga tak tampak di layar televise. Tapi dalam sebuah tim, hal ini mestinya ada. Ada pihak yang menangani ini yang nantinya akan jadi pertimbangan tim pelatih.
Di Semen Padang FC, ntah ada pihak yang khusus menangani hal ini. Tapi, kabarnya ada. Kenapa saya mempertanyakan keberadaan pihak yang khusus menangani statistik tim ini? Karena “kerjanya” seperti tak memberikan dampak banyak bagi tim. Statistik tim ini secara kasat mata dalam lima laga terakhir, bisa dikatakan di bawah form, kecuali saat menjamu Persib Bandung.
Kita lihat saat Riko Simanjuntak bisa memberikan kemenangan untuk Semen Padang atas Persipura. Penguasaan bola Semen Padang atas tamunya saja, lebih rendah. Artinya, di bawah 50 persen. Penguasaan bola, memang bukan lah segalanya. Tapi penguasaan bola bertujuan untuk mendevelop serangan yang selanjutnya bermuara pada tendangan ke gawang dan akhirnya ada yang bisa menjadi gol.
Menghadapi Persipura, tuan rumah kalah segalanya. Penguasaan bola, tendangan melenceng, tendangan ke gawang, operan sukses hingga takle sukses, Semen Padang kalah. Setelah laga ini, terutama di laga away, saat berhadapan dengan Bali United, Pusammania Borneo, dan Bhayangkara, tim ini seperti miskin kreasi. Dari tiga laga itu, anak asuh Nil Maizar cuma bisa menciptakan dua tendangan ke gawang.
Artinya, dalam 270 menit, lini serang Semen Padang seperti “terkunci”. Dari tiga laga itu, saat dijamu Borneo dan Bali, lini serang tak bisa membuat tendangan ke arah gawang. Tim ini seperti tak punya inovasi untuk membongkar pertahanan lawan, di saat lawan begitu fasih mengenali pergerakan para pemain Semen Padang. Kenapa fasih? Karena tim lawan paham benar pola tim ini saat berupaya menekan lawan.
Kembali dengan persoalan penguasaan bola. Seperti yang sama-sama kita ketahui, penguasaan bola Hengki Ardiles Cs di lima laga terakhir, juga menunjukkan angka yang tak menggembirakan. Hanya dengan Persib Bandung, Semen Padang unggul segalanya di ukuran statistik. Kebetulan juga saat itu, Persib sedang tak bernafsu menyerang. Mereka lebih memilih menjaga kedalaman agar tak kecolongan. Hal ini seperti membuat Semen Padang leluasa bergerak.
Namun, ketika para pemain tertekan, terutama di pertandingan tandang, kreasi serangan balik yang dirancang Nil Maizar seperti sudah dipahami pelatih lawan. Tim lawan, sepertinya paham benar dengan karakter anak asuh Nil sehingga sudah menyiapkan antisipasi berlapis.
Semisal, saat Riko Simanjuntak pegang bola, maka akan ada tiga hingga empat pemain yang melapisi pergerakan si kancil ini. Atau, ketika pemain siap-siap melakukan serangan balik, maka kemana arah bola sudah bisa ditebak oleh lini tengah dan lini bertahan lawan. Hal ini sepertinya yang membuat penguasaan bola Semen Padang menjadi minim.
Harusnya, ada kreasi-kreasi baru yang bernas yang diciptakan tim pelatih. Pemain harus ditempa untuk berani pegang bola. Bukan buru-buru melayangkan bola ke depan begitu saja. Hasilnya, juga tercatat dalam statistik, operan sukses para pemain Semen Padang selalu rendah, terutama di tiga laga away.
Namun, untuk urusan penguasaan bola, faktor fisik juga harus diperhatikan. Sama-sama tersaji di layar kaca kita semua, saat di laga away, kaki pemain seperti berat diajak berlari. Lebih banyak yang bermain safe. Penguasaan bola, harus ditopang pergerakan pemain lain untuk membuka ruang, agar aliran bola bisa sampai dengan tepat. Untuk bisa bergerak inilah, diperlukan fisik yang prima. Dan yang tersaji di televisi, sepertinya para pemain tak punya kemampuan fisik yang mempuni.
Setali tiga uang dengan kondisi pemain, sorot mata fans kini tertuju kepada pelatih, terutama pelatih fisik yang dianggap bertanggung jawab dengan kendornya fisik pemain. Bahkan, sebagian lainnya menyoroti kinerja tim pelatih secara umum. Bagi saya, ini belum solusi untuk saat ini. Catat, untuk saat ini.
Kreasi dan keberanian menguasai bola bisa menjadi prioritas awal setelah pembenahan sektor fisik. Kreasi, membuat lawan sulit mendikte permainan seorang Marcel yang selama ini diplot jadi muara bola. Keberanian menguasai bola dapat membuat.

 

*Penulis merupakan wartawan olahraga harian Haluan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *