Jangan Pernah Mengaku Sebagai Seorang Suporter!

Oleh: Rieko Kristian

Jangan pernah mengaku sebagi seorang suporter, jika kamu tidak paham untuk apa seorang suporter itu hadir di tribun sebuah stadion ketika tim kesayangan mereka berlaga.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sepakbola adalah olahraga paling populer di muka bumi saat ini. Bagaimana tidak, demam sepakbola telah melanda hampir seluruh lapisan masyarakat di setiap penjuru dunia. Bahkan sepakbola bisa dikatakan salah satu nyawa dunia, karena industri sepakbola telah menjadi salah satu penggerak ekonomi di sebagian negara. Bahkan penyanyi legendaris dunia, Bob Marley selalu berucap “Football is a part of I, when I play the world wakes up around me.”

Sepakbola pun tiada arti tanpa kehadiran suporter. “Football is nothing without Fans”, ucap Jock Stein, salah satu pelatih sepakbola terbesar di dunia asal Skotlandia. Siapa yang berani menyangkal penryataan ini? Bahkan Gary Neville pun, salah satu pahlawan Manchester United semasa karirnya juga sangat menghargai kehadiran suporter. “One of the most special things about my career here has been the relationship the team has had with the fans over the last 20 years,” cerita Neville dalam situs pribadinya.

“The support we’ve had over the time I’ve been here has been unbelievable and I’ll always be grateful for that. Football is all about the fans. That’s why players play the game – the idea of making the crowd roar, jump, scream, shout… Your greatest experiences are always related to the fans and giving them the joy and the happiness they crave. Without them you don’t have anything. It’s your job to go out there and make them happy.”

“Dukungan yang kami dapatkan selama saya disini membuatku tak percaya dan saya sangat bersyukur. Sepakbola adalah semua hal tentang suporter. Itulah yang menjadi alasan pemain sepakbola untuk bertanding – Gemuruh suara penoton, melompat, berteriak, menyemangati… Pengalaman terbesar anda adalah selalu berhubungan dengan suporter dan memberi mereka kebahagiaan yang mereka inginkan. Tanpa mereka anda tidak akan mempunyai apa-apa. Itulah tugas anda, untuk membuat para suporter itu bahagia,” Gary Neville.

Jadi, untuk apa kita menjadi suporter? Sampai titik ini kita harus memahami kalau suporter adalah salah satu elemen terpenting dalam sepakbola. Suporter bagi sebuah tim bisa menjadi sebuah aset yang berharga jika dikelola dengan baik. Suporter bisa menjadi pemain ke duabelas, karena semangat yang diberikannya menjadi simbol kebanggan tim karena kreatifitas dan loyalitasnya akan menjadi spirit kemenangan dan kejayaan tim. Begitu membudayanya eksistensi suporter dalam sepakbola menjadikannya tak akan ada sebuah kesebelasan tanpa ada suporter.

Secara sosio-antropologis, dalam wujud praksis, menurut Anung Handoko (2008: 14) yang membagi penonton menjadi dua golongan. Pertama, penonton yang murni ingin menikmati permainan cantik saja, tidak peduli dari tim mana pun, dan kedua, adalah penonton yang berpihak pada tim tertentu. Yang kedua inilah kemudian disebut dengan istilah khusus supporters. Para suporter itu dengan sangat kreatif membuat jargon-jargon tertentu untuk menamai kelompoknya. Fenomena itu bukan hanya terjadi di negara kita, tapi telah mengglobal di hampir setiap klub di dunia yang mempunyai suporter fanatik. Misalnya, Milanisti (AC Milan), Liverpudlian (Liverpool), Laziale (SS Lazio), dan lain-lain. Sedangkan di dalam negeri, selain Bonek-nya Persebaya, kita juga mengenal Slemania (PSS Sleman Yogyakarta), Aremania (Arema Malang), Jakmania (Persija Jakarta), Brajamusti (PSIM), Pasoepati (Persis Solo), dan sebaginya.

Suporter begitu melegenda dengan moment-moment yang dijalani dalam sejarah dukungan terhadap kesebelasannya. Banyak moment dalam kehidupan suporter tragedi Heysel, trgedi Ultras berulah di serie A italia, aksi para Holigans dan Neo NAZI yang begitu fanatik mendukung kesebelasannya, tradisi tragedi Bonek dengan kenekatannya, aksi aktratif Aremania yang tercoreng karena emosinya untuk rusuh dan banyak hal tentang aksi suporter adalah bumbu dalam format budaya suporter karena alasan yang hampir sama” kecintaan terhadap sepakbola”. Anda tak akan pernah bisa melepaskan liverpol dengan the anfield gank atau the kopnya yang terkenal dengan lagu kebangsaan -u ll never walk alone nya-, the Orange dengan tabuhan drum dan tiupan trompetnya yang serba oranye saat Belanda bermain, tarian samba saat brazil beraksi di rumput hijau, kibaran bendera bersautan dengan nyala petasan di liga clausura dan arpetura argentina, dan semua yang khas di belahan bumi lainnya dengan khas budaya yang dibawanya.

Suporter berbeda dengan penggemar/fans club apalagi penonton, karena suporter bola adalah penggemar yang langsung melihat dan merasakan spirit permainan sepakbola di dalam stadion. Sorak sorai dan lagu dan atribut simbol kecintaan tim adalah harapan yang bertema akan kejayaan. Sebuah mata rantai yang tak akan terputus ketika keterikatan jiwa suporter sudah berada dalam naungan kekeramatan stadion kebanggaan dan warna kengerian bendera tim, plus catatan prestasi tim. Bila semua begitu menakjubkan maka semua akan tampak dalam wajah suporter. Tangisan keharuan dan kekecewaan adalah warna stadion-stadion terkemuka yang dimiliki tim bereputasi mendunia. Keangkeran tribun dengan penuh sesak kepalan semangat suporter simbol adanya spirit dari kumpulan beribu-ribu spirit penonton di stadion yang dirasakan para pemain. Itulah jawaban kenapa faktor tuan rumah dengan gol awaynya menjadi sangat berhubungan dengan kualitas suporter di dalamnya.

Sekarang mari kita lihat ke dalam diri kita sendiri, ke dalam keluarga besar yang kita coba bangun kurang dari setahun yang lalu, yaitu SPARTACKS. Tak perlu dijabarkan lagi karena seharusnya kita semua sudah paham untuk apa SPARTACKS berdiri. Sebuah konsep kekeluargaan yang lahir di tengah adat egaliter Minangkabau dan hanya didasari satu hal, “Kecintaan Terhadap Kabau Sirah, Semen Padang FC”. Kerinduan yang amat sangat akan prestasi sepakbola Ranah Minang, yang selama ini kalah akan dominasi tim-tim dari pulau Jawa dan timur Indonesia. Ingat saudaraku, saat ini kita baru mulai melangkah. Che Guevara pernah berkata, “It’s not just a simple game. It’s a weapon of the revolution,” sepakbola bukanlah sebuah permainan sederhana, tapi sepakbola adalah senjata revolusi.

Jadi, dalam tulisan kecil yang tak bermakna ini, saya hanya mencoba menyampaikan, Jangan Pernah Mengaku Sebagai seorang Suprter, jika kamu sendiri tidak paham akan makna suporter. “Football is a game for rough girls, not suitable for delicate boys,” sebuah kutipan berharga dari Oscar Wilde. Dengan terjemahan bebas dari saya pribadi, SEPAKBOLA ADALAH PERMAINAN UNTUK CEWE TOMBOY, TIDAK COCOK UNTUK COWO KEMAYU!!!

Rieko SP

Aku hanya seorang suporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *