Kali Ini Wasit Iwan Sukoco Kecewakan PSM Makassar

Pelatih PSM Makassar, Rudi William Keltjes menilai wasit Iwan Sukoco tidak fair dalam memberikan keputusan di lapangan. Bahkan terkesan berat ke tim tamu Persiram.

Spartacks Cyber. Usaha PSM Makassar untuk mengamankan poin penuh di kandang sendiri harus kandas setelah dipaksa bermain imbang oleh Persiram Raja Ampat 1-1 pada minggu, 23 Februari di stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. PSM sempat unggul sampai menit ke-90 melalu tendangan penalti Ponaryo Astaman pada injury time babak pertama. Namun keunggulan tersebut buyar ketika di penghujung laga, wasit Iwan Sukoco kembali menunjuk titik putih setelah Ponaryo Astaman dianggap handball. Penalti kedua Persiram ini berhasil diubah menjadi gol oleh Mbida Messi.

Pelatih Persiram Raja Ampat, Mario Gomes de Oliviera, mengaku puas berhasil mencuri poin dari kandang Juku Eja. Ia menilai anak asuhnya bermain baik dan mampu menguasai jalannya pertandingan.

“Pertandingan tadi sangat menarik, kedua tim saling serang. Kita lebih unggul, tapi pemain kurang tenang sehingga finishing-nya tidak maksimal. Itu karena mereka merasa bisa, jadinya terburu-buru,” kata Gomes kepada wartawan setelah pertandingan.

“Saya salut dengan permainan anak-anak yang berjuang 90 menit dan mendapatkan draw di jelang akhir laga. Hasil draw ini saya pikir cukup,” ujarnya.

Gomes juga menolak tudingan bahwa pasukannya bermain kasar. Pelatih asal Brazil kelahiran 1 Desember 1962 ini menganggap benturan tercipta karena kedua tim sama-sama berjuang mendapatkan bola.

“Saya pikir permainan tadi keras tapi sama-sama berusaha mendapatkan bola. Mereka sama-sama fighting dan tidak ada yang kasar,” katanya.

Sementara itu pelatih PSM Makassar, Rudi Wiliam Keltjes kecewa timnya hanya mampu bermain imbang melawan tim Dewa Laut. Dia mengakui bahwa Persiram mampu memberikan tekanan kepada PSM. Bahkan, tim asal Papua Barat itu unggul tipis dalam penguasaan bola.

Ball possession memang kita kalah. Tapi, anak-anak bermain luar biasa dan pantang menyerah. Itu membanggakan saya,” katanya.

Namun demikian, Rudi merasa tidak puas akan kinerja wasit di lapangan. Wasit Iwan Sukoco yang memimpin laga dianggap tidak fair.

“Yang paling bikin kecewa adalah wasit. Keputusan-keputusannya di lapangan membuat pemain di lapangan tidak bisa fokus sehingga sering emosi,” kata Rudi.

Rudi berpendapat seharusnya pada babak kedua PSM Makassar mendapatkan dua penalti. “PSM harusnya dapat dua penalti di babak kedua. Ardan dan Abanda juga dijatuhkan di kotak penalti tapi wasit sepertinya tidak melihatnya,” tutur mantan pelatih Persebaya ini.

“Saya tidak mau mengevaluasi wasit, biar Tuhan yang membalasnya. Tapi, jika wasit seperti ini masih ada, tidak jujur di lapangan, kita akan main cara Makassar,” ungkap Rudi.

Rudi menilai permainan Persiram sangat kasar, bahkan menjulukinya sebagai permainan sepakbola bar-bar. Itu terlihat dengan banyaknya pemain PSM yang cedera, jalan terpincang, keluar dari lapangan. Bahkan, Michael harus ditandu keluar lapangan, Syamsul yang biasanya kuat, menyerah juga dan akhirnya diganti.

“Semoga tidak ada lagi permainan seperti ini. Itu sepakbola bar-bar,” kata Rudi.

Rieko SP

Aku hanya seorang suporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *