PSSI Izinkan Klub Bermasalah Ikuti ISL 2014

Dari 22 klub peserta Liga Super Indonesia (ISL) 2014, masih ada lima klub yang mengalami masalah finansial, yaitu Sriwijaya FC, Persela Lamongan, Perseru Serui, Persik Kediri dan Persijap Jepara.

Spartacks Cyber. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) telah menetapkan klub peserta Liga Unifikasi yang tetap bernama Liga Super Indonesia (ISL) sebanyak 22 tim. ke-22 klub tersebut adalah semua klub yang sebelumnya (10 Desember 2013) diumumkan sebagai peserta sementara ISL yang dinyatakan telah selesai diverifikasi.

Namun, dari 22 klub peserta tersebut, Sekjen PSSI Joko Driyono menyatakan ada lima klub lagi yang masih mengalami masalah finansial. Lima klub tersebut adalah Sriwijaya FC, Persela Lamongan, Perseru Serui, Persik Kediri dan Persijap Jepara.

“Sriwijaya FC memiliki sisa tunggakan Rp 1,7 Miliar, Persela Lamongan memiliki sisa tunggakan Rp 200 juta. Kemudian, Persijap Jepara memiliki sisa tunggakan Rp 300 juta,” ujar Joko dalam konferensi pers di kantor PT Liga Indonesia, Kuningan, Jakarta, Senin, 23 Desember 2013.

“Untuk Sriwijaya FC saat melapor ke kami. Pada per 10 Desember 2013, memiliki utang gaji pemain sebesar Rp 3,4 miliar. Mereka sudah melunasi sebagian utang itu. Saat ini tunggakan gaji pemain tersisa Rp 1,7 miliar,” terang Joko.

Untuk Persela, ujar Joko yang juga CEO PT LI, sebelum 10 Desember 2013 utang gaji pemain sebesar Rp 5,2 miliar. Namun per 20 Desember tersisa Rp 2,1 miliar.

Lalu untuk utang gaji pemain yang ditanggung Persijap Jepara sebelum 10 Desember 2012 sebesar Rp 2 miliar. “Persijap sudah membayar gaji sebesar Rp 1,5 miliar. Jadi sisa gaji yang masih ditunggak sebesar Rp 500 juta,” ucap Joko.

Sayangnya Joko hanya memberikan keringanan dengan memperpanjang tenggat waktu pelunasan utang-utang klub tersebut kepada pemain mereka sampai 15 Januari 2014, tidak membatalkan keikutsertaan mereka di liga. “Tenggat waktu sampai 15 Januari dengan syarat apabila tidak memenuhi maka seluruh hak komersial di musim yang akan datang ditangguhkan. Kemudian klub bermasalah hanya bisa menggunakan 18 pemain,” katanya.

Sedangkan permasalahan yang dialami oleh Perseru Serui dan Persik Kediri adalah rasionalisasi budget untuk musim kompetisi 2014.  “Kedua klub tidak ditemukan indikasi budget pada musim mendatang. Sehingga lebih rasional 40 persen dari budget yang diajukan hingga nilai berkisar Rp 10 miliar,” katanya.

Joko beralasan, revisi budget Perseru Serui dan Persik Kediri tersebut untuk melindungi pemain dari kemungkinan kegagalan klub membayar gaji pemain. “Ini dimaksudkan adanya proteksi terhadap kasus gagalnya membayar gaji pemain. Pada kedua kedua klub itu kami mengoreksi 40 persen budget mereka. Rata-rata budget yang mereka miliki sebesar Rp 10 miliar per tahun,” papar Joko.

Rieko SP

Aku hanya seorang suporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.