Sepakbola Bapak Bangsa

Spartacks – Bersama cahaya Aufklarung yang dibawa pemerintah kolonial lantaran merasa berutang budi kepada masyarakat tanah jajahan, pada akhir abad ke-19 sepak bola tiba di Hindia Belanda. Olahraga itu segera menjadi “agama baru”, seperti halnya nasionalisme, komunisme, islamisme, dan sosialisme.

Seperti ideologi-ideologi itu, sepak bola pun tumbuh menjadi counter culture terhadap perkembangan masyarakat dan sejarah kolonial. Sebagaimana pergerakan politik awal abad ke-20, berbagai bond atau klub sepak bola yang bermunculan juga segera diliputi semua sifat khas yang, menurut Ben Anderson, menjadi zeitgeist atau jiwa zaman saat itu: muda, maju, dan sadar.

Bukankah Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) lahir pada 1930 sebagai puncak keresahan yang telah lama menghantui klub-klub pribumi (termasuk Tionghoa) atas perlakuan diskriminatif Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB), perkumpulan sepak bola Hindia Belanda. NIVB tak menganggap ada bond pribumi, baik sebagai anggota maupun penonton. Perhatian hanya ditujukan kepada bond Belanda dan anggota pemain kulit putih.

Tak mengherankan bila Boedi Oetomo menjadikan sepak bola sebagai olahraga yang paling diperhatikan. Soetomo tahu betul betapa akrab tokoh-tokoh pergerakan dengan sepak bola. Mereka bukan saja meyakini bahwa sepak bola adalah salah satu ujung tombak gerakan menggelorakan nasionalisme dan menentang kolonialisme, melainkan mereka juga -terutama Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan Thamrin- pemain bola yang andal, atau setidaknya seorang maniak sepak bola.

Hatta tidak banyak mempunyai kegemaran. Tapi dalam memoarnya diungkapkan bahwa waktu masih kecil dan pada masa mudanya ia sangat senang menonton dan bermain sepak bola. Hatta adalah penyerang andal, tapi juga sohor sebagai back yang kedot. Ia tidak mau bermain kasar. Kalau lawan bermain kasar, ia hanya berkata, “Tidak baik bermain seperti itu. Kita berolahraga untuk mencari persahabatan dan untuk kesehatan.”

Sjahrir, menurut penulis biografinya, Rudolf Mrazek, sejak di Europeesche Lagere School (ELS) atau sekolah rendah Eropa di Medan pada 1915, sudah sohor sebagai penggila bola. Tidak seperti Hatta, bagi Sjahrir sekolah tak boleh menganggu kegemarannya akan sepak bola. Sjahrir sohor sebagai penyerang tengah yang “ahli, tangkas, dan pandai”.

Sepak bola pula yang segera membuat Tan Malaka populer. Selama tinggal di Haarlem pada 1914-1916, Tan Malaka menjadi anggota bond sepak bola Vlugheid Wint (Kecepatan Menang). Nama perkumpulan itu sesuai dengan cara Tan Malaka bermain, “kecepatannya luar biasa”, karena itu “ia segera mendapat sukses”. Tan Malaka bermain di garis depan. Dia penyerang yang gesit dan licin, terutama sangat berbahaya kalau ia merumput tak bersepatu alias nyeker.

Tak banyak informasi mengenai Muhammad Husni Thamrin dan Soekarno sebagai pemain sepak bola. Thamrin-politikus Volkraad atau Dewan Rakyat yang dianggap paling berbahaya di Hindia Belanda -dalam kesaksian keluarga memang disebut sebagai pecandu sepak bola.

Ketika masih bersekolah ELS pada 1911, Soekarno juga sohor sebagai pesepakbola andal. Selanjutnya, tak ada informasi lagi ihwal Soekarno sebagai pemain sepak bola. Meskipun informasi Thamrin dan Soekarno sebagai pemain sepak bola minim, sebaliknya keduanya diketahui menaruh perhatian besar pada persepakbolaan.

Thamrin yang mendesak gemeente atau kota praja agar memperhatikan keperluan klub-klub sepak bola pribumi akan lapangan sepak bola. Dia telah merogoh koceknya sendiri f 2.000 sebagai hibah, sehingga untuk pertama kalinya klub pribumi di Batavia punya lapangan sendiri. Itulah lapangan VIJ, yang pada 1932 menjadi tempat pelaksanaan Kejuaraan Nasional II PSSI. Saat pertandingan final antara VIJ dan PSIM, Thamrin secara khusus meminta Soekarno, yang baru saja bebas dari Penjara Sukamiskin, melakukan tendangan pertama tanda dimulainya pertandingan.

Perkembangan kemajuan klub-klub sepak bola pribumi begitu pesat. NIVB sendiri mengakui hal ini setelah melihat permainan VIJ yang mampu mengungguli SIVB dalam Kejuaraan Nasional PSSI III di Surabaya. Padahal SIVB banyak memakai pemain kulit putih terbaik NIVB. Itu pula yang mendorong panitia Piala Dunia 1938 di Paris, Prancis, mengundang Indonesia untuk ikut.

Namun penguasa kolonial di Batavia melarang tim PSSI berangkat. sebagai gantinya organisasi sepak bola orang-orang Belanda di Hindia Belanda yang diresmikan pada 1936, yaitu Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU), disuruh merancang kesebelasan yang pemainnya telah dipilih untuk diberangkatkan. Kekhawatiran pemerintah kolonial dapat dipahami mengingat pada 7 Agustus 1937, tim PSSI yang dibentuk mendadak saja berhasil menahan imbang kesebelasan Nan Hwa dari Tiongkok. Padahal kesebelasan yang dipimpin Lee Wai Tong “Sang Raja Bola Asia” itu sebelumnya dengan mudah mempecundangi kesebelasan Belanda 4-0.

Maka sesungguhnya tim yang diberangkatkan ke Pia la Dunia Paris 1938 adalah tim yang dikonsepkan untuk memperlihatkan superioritas Eropa. Alhasil, tersiar berita Indonesia dipecundangi pada babak pertama 6-0 oleh Hungaria, yang kemudian jadi juara kedua dalam pertandingan keseluruhan.

Setelah kemerdekaan, tidak seperti di lapangan pergerakan yang menggebu-gebu mencari akar-akar revolusioner, di lapangan sepak bola adem-adem saja. Sepak bola tidak mengalami kebangkitan sebagaimana banyak bidang lain menyambut kemerdekaan, meski dalam situa si sangat kekurangan.

Dalam konteks itu, tiap pesepak bola pun mengalami ketumpulan visi nasionalisme dan komitmen moral bahwa sepak bola bukan medan kepentingan, melainkan perjuangan, dan ujung tombak gerakan kebangsaan. Suatu kehilangan visi yang membuat persepakbolaan Indonesia dalam setengah abad tanpa prestasi, jadi pecundang, dan ironisnya hanya ditanggapi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan pernyataan “sepakbola Indonesia jangan tunggu Lebaran kuda”. (Majalah TEMPO, 12 Juli 2010)

Saya merasa terhormat mendapat undangan untuk menghadiri acara teman-teman di Solo, maaf. Tetapi, saya tidak ingin benar-benar tidak hadir karena menurut saya ini peristiwa penting dan saya rasa ini karena saya percaya bahwa sepakbola adaah urusan penting dan sejarah menunjukkan bahwa rasa kebangsaan kita ditentukan juga di lapangan hijau.

Di bawah surat saya ini terlampir tulisan saya “Sepakbola Bapak Bangsa”, dimuat di Majalah Tempo, 12 Juli 2010, itu saat menjelang final Piala Dunia. Terus terang, saat menulisnya saya tengah merasa bosan dengan pengamat yang hanya melihat sepakbola sebatas olahraga, bukan sebuah produk kebudayaan dimana di dalamnya menyangkut identitas bahkan spirit suatu bangsa.

Cara mengamati sepakbola seperti itu menurut saya bukan keliru, tetapi melupakan (kalau tidak dapat disebut menlenyapkan) inti terpenting sepakbola sejatinya yaitu sebagai api penggerak dan pengobar utama spirit kebangsaan dan keadabannya sebagai masyarakat bermartabat. Mungkin sebab itu negeri-negeri yang diidentifikasi sebagai negeri miskin dan terbelakang di dunia mampu melahirkan pesepakbola dan ketangguhan dalam bersepakbola, inilah spirit sepakbola yang memang dalam sejarahnya hadir di daerah-daerah terjajah sebagai produk Barat yang akhirnya dijadikan medium politik untuk membuktikan bahwa bangsa-bangsa terjajah juga manusia yang tidak bisa dianggap tak punya keunggulan, tak berkemampuan dan memiliki talenta yang menunjkkan bahwa mereka manusia yang mampu mandiri dan bermartabat. Tapi itulah yang saya temukan dari sejarah. Dan memang betapa sepakbola itu di negeri terjajah seperti Indonesia dahulu tumbuh bersama rasa kebangsaan di dalam pergolakan nasionalisme mencapai Indonesia merdeka. Sepakbola memainkan peranan penting sebagai alat perjuangan mengangkat martabat dan harkat kebangsaan, jugapetanda atau simbol bahwa Indonesia bukanlah bangsa kelas kambing, bangsa tak berkeunggulan, masyarakat yang gagal.

Para politisi penggerak rasa kebangsaan bukan saja pesepakbola yang tangguh, tetapi juga sadar betul akan tempat penting sepakbola dalam gerakan kebangsaan. Adalah betul dalam konteks itu sepakbola mengalami politisasi, tetapi politisasi dalam artian demi mengejar tujuan-tujuan mulia kebangsaan. Dan ini malah mendorong munculnya pesepakbola-pesepakbola tangguh. Bertolakbelakang sekali dengan sekarang yang mempolitisasi sepakbola untuk kepentingan-kepenting selera politik rendahan penuh kebusukan KKN. Akibatnya adalah dekadensi moral pemain dan pengurus yang hanya memperlihatkan pembusukan tak terkira dan kebejatan yang sangat memuakan serta memalukan. Perang politik tumpah ke lapangan hijau dan sepakbola pun menjadi potret betapa kebusukan politik sudah merajalela begitu luas dan hanya membuat Indonesia tidak mmiliki lagi nasib baik.

Salam dan banyak tabik serta hormat. Salam juang.

JJ Rizal, Sejarawan

Haris Tamsin

Just SPARTAN and MUFC Die Hard Fans

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *