Opini: PSSI Harus Membuka Hati

Tulisan kiriman dari: Kurniade Panuli.

Banyaknya kecaman yang dilontarkan para pemerhati sepakbola dan kelompok suporter sepakbola di Indonesia setetlah kekalahan telak timnas melawan Bahrain pada putaran III penyisihan Piala Dunia 2014 mungkin sangat wajar terjadi. Dari semua pertandingan di fase grup, tim Garuda hanya mampu menjadi juru kunci dan lading poin bagi tim lain dengan poin 0. Memang ini bukan prestasi terburuk dalam sejarah kualifikasi Piala Dunia. Namun kekalah 0-10 adalah rekor kekalah terbesar yang pernah didapat timnas dimana sebelumnya dikalahkan 9-0 oleh Denmark pada tahun 1974.

Kekalahan ini juga mengundang reaksi para pencinta bola di Asia bahkan dunia. Rio Ferdinand dalam akun twitternya pun ikut tidak percaya dengan kekalahan ini. Bahkan di Negara tetangga kita Malaysia, hasil ini menjadi bahan olokan mereka. Yang mereka tau itu Indonesia, mereka tak peduli itu pemain mana atau apa.

Dalam kisruh dalam tubuh PSSI yang baru dibentuk ini, memang pemain timnas hanya diambil dari liga resmi PSSI yaitu Indonesian Premier League (IPL). Sehingga pemain timans harus dirombak besar-besaran. Kasihan memang, dimana di Negara ini dalam pasal 30 ayat 1 UUD 1945 disebutkan “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan Negara”, dan PSSI nyata dengan terang-terangan melanggar pasal tersebut.

Memang ini bukan yang pertama yang pernah dilakukan PSSI dengan kisruh yang terjadi. Sebelumnya PSSI juga membuat dualisme liga dimana dalam hal ini memang terlihat PSSI tidak bisa merangkul semua komponen sepakbola yang ada di Negara ini. Kemudian juga dualisme klub yang lagi-lagi PSSI tidak bisa menjadi penengah bahkan menambah kisruh yang ada. Kasihan memang, namun inilah yang terjadi sehingga banyak pemain dan semua komponen yang ada berada dalam lingkaran kebingungan yang ada.

Bukannya saya mendukung era sebelumnya, namun cobalah kita bersama juga membuka hati, apakah yang dilakukan PSSI ini masih dalam keadaan wajar atau tidak? Apakah ini bentuk suatu pembabatan akan era lama tanpa memikirkan hasil yang baik untuk sepakbola kita yang sudah jauh tertinggal dengan Negara lain? Bukankah sebaiknya PSSI kembali merangkul semua yang terpecah, agar semua pencinta sepakbola bisa konsentrasi dalam memajukan sepakbola nasional? Sebagai supporter, ada baiknya kita juga kembali merenungkan apa yang terjadi dan melihat lagi fakta yang ada. Bukannya terlalu berlebihan saya berbicara seperti ini. Namun, harapan kecil saya yg hanya ingin euforia itu kembali bangkit dan sepakbola kita juga makin menghibur dan kemudian menghasilkan prestasi kepada klub dan Negara ini.

Semoga tak ada lagi cacian kepada timans ini, semoga tak ada lagi perpecahan kubu dalam sepakbola Negara ini, semoga tak ada lagi penyesalan pemain timnas dalam menggunakan jersey berlambang garuda di dada itu. Bukalah hatimu PSSI, agar piala AFF tahun ini datang ke bumi pertiwi.

*Penulis adalah anggota Spartacks Tatar Sunda

Rieko SP

Aku hanya seorang suporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *