Duel antara dua sahabat

Oleh: Rizal Marajo

Pertemuan antara Persijap Jepara versus Semen Padang FC, dalam lanjutan Liga Prima Indonesia, Minggu (19/2) mendatang, ternyata punya sisi menarik diluar aspek teknis. Tidak lain tidak bukan adalah soal pelatih kedua tim, Agus Yuwono di Persijap Jepara dan Nil Maizar di kubu Semen Padang.

Tidak banyak yang tahu, kedua pelatih ini adalah dua sahabat akrab alias “konco palangkin”, yang untuk kali pertama bertemu sebagai lawan dalam kapasitas sebagai seorang pelatih.

Nil Maizar dan Agus Yuwono, adalah dua pemain PSSI Garuda II yang dibentuk tahun 1987. Bersama mereka ada juga nama Rochy Poetiray, Herryansyah, Agung Setya Budi, I Komang Putra, Zulkarnaen Jamil dan sebagainya.

Namun hubungan Nil dan Agus sedikit spesial, karena keduanya pernah magang berlatih di klub besar Cekoslowakia, yaitu Sparta Praha pada tahun 1990. Mereka berdua juga sempat bermain di klub Divisi I Ceko, Benosov selama lima bulan.

“Waktu itu tim Garuda II berlatih sebulan di Ceko bersama Yosef Masopust. Tapi seminggu setelah kembali ke Indonesia, saya bersama Agus, juga Rochy dan Herryansyah, kembali ke Cekoslowakia,” kata Nil kepada Singgalang mengisahkan, Jumat.

Tujuan kembali ke Ceko, karena dua klub Eropa Timur itu, yaitu Sparta Praha dan Dukla Praha tertarik pada mereka dan meminta mereka menjalani “trial”. Dalam hal ini, Nil dan Agus Yuwono bergabung dengan Sparta, sementara Rochy dan Herryansayah magang di Dukla.

“Tapi dalam kompetisi, kita diberi kesempatan bermain di klub Divisi I. Saya dan Agus di Benosov, sedangkan Rochy dan Herry di klub lain, tapi masih di Divisi I. Kami sering diberi kesempatan tampil, dan banyak belajar disana,” kata Nil mengenang.

Tidak heran, suka duka dan bersama-sama menimba ilmu selama lima bulan di Ceko, tinggal berdua di apartemen, membuat Nil dan Agus menjadi dua sahabat kental, dan masih terjalin baik sampai detik ini. Komunikasi di antara keduanya masih terjadi dan saling berbagi ilmu dan pengalaman sebagai sesama pelatih.

“Hal yang paling membahagiakan, kita berdua bisa banyak belajar banyak bagaimana sepakbola profesional itu sesungguhnya. Meskipun tidak mudah, karena salah satunya harus beradaptasi dengan cuaca, karena kami disana bertepatan dengan musim dingin,” kata Nil.

Sekarang, setelah keduanya memilih jalur karir sebagai pelatih, untuk pertama kali mereka bertemu sebagai musuh saat tim yang mereka tukangi bertemu di kompetisi.

Reuni memang menyenangkan dan sedikit emosional, tapi sisi profesionalitas tetap harus dikedepankan.

“Untuk sementara kita lupakan dulu persahabatan, karena di lapangan kita harus tetap profesional.” ujar Nil mengakhiri.

*Penulis adalah Sport Editor Harian Singgalang, Padang.

Haris Tamsin

Just SPARTAN and MUFC Die Hard Fans

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *