Angin Segar dari pelatih muda padang

Angin segar sepertinya tengah berhembus di dunia kepelatihan sepakbola Sumatra Barat. Di tengah regenerasi yang tengah terjadi, satu per satu pelatih muda potensial bermunculan dari bumi “Ranah Minang” dan langsung menyedot perhatian di tingkat nasional.

Sebelum ini, sepakbola Sumbar memang “kering” dari pelatih kaliber nasional. Sangat langka pelatih dari daerah ini yang bisa berkibar dan dikenal luas publik sepakbola Indonesia. Bahkan, sempat muncul semacam olok-olok, Sumbar atau Padang hanya punya dua pelatih sepakbola, Suhatman Imam dan Jenniwardin.

Tidak keliru sebenarnya, karena memang dua orang itulah namanya yang kerap disebut-sebut di tingkat nasional. Soalnya, di tangan kedua pelatih yang silih berganti menangani tim Semen Padang itu, ada prestasi yang lahir.

Suhatman misalnya, mempersembahkan satu-satunya trofi bergengsi sejauh ini di di lemari piala SP, yaitu juara Liga 1992. Prestasi lain pelatih yang pernah menjadi pelatih PSSI Primavera dan Baretti ini ini adalah semi-final Liga Indonesia 2002.

Sedangkan Jeniwardin, pelatih yang juga pernah menukangi Sriwijaya FC dan PSPS Pekanbaru ini, tercatat membawa Semen Padang ke 10 besar Liga Indonesia 1998/99. “Sebuah fakta, Semen Padang FC bisa berprestasi lebih baik jika ditangani pelatih lokal daerah. Ini yang membuat Suhatman dan Jenniwardin bisa dikenal di tingkat nasional,” ujar wartawan olahraga senior Sumbar, Yosrizal kepada GOAL.com Indonesia, Rabu (8/2).

Menurut mantan ketua SIWO PWI sumbar ini, saat ini memang tengah terjadi proses regenerasi di dunia kepelatihan sepakbola Sumbar. Era Suhatman dan Jenniwardin memang telah berlalu, dan muncul pelatih-pelatih muda yang sejatinya adalah murid-murid kedua pelatih kawakan itu.

Yang paling menonjol tentu Nil Maizar, pelatih kepala Semen Padang FC saat ini. Dalam debutnya sebagai pelatih kepala dengan tim baru promosi, Nil mampu membawa timnya meraih peringkat empat Superliga 2010/11.

Dari sini nama pelatih berusia 42 tahun, jebolan PSSI Garuda II itu mulai akrab ditelinga publik sepakbola nasional. Bahkan namanya mulai digadang-gadang sebagai calon pelatih timnas masa depan. Apresiasi pun mulai didapatkan, misalnya dipercaya menukangi tim Para Bintang Superliga musim lalu.

Setelah sempat disebut-sebut calon kuat suksesor Rahmad Dermawan di timnas U-23, pemegang Lisensi A AFC ini kini tengah ditimang-timang PSSI untuk memegang timnas selection, yang akan menghadapi klub asal Italia Inter Milan saat melakukan tur Indonesia 2012 pada Mei mendatang.

“Sama dengan pelatih-pelatih lain, menjadi pelatih timnas adalah sebuah cita-cita dan impian seorang pelatih, termasuk saya. Adalah sebuah kebanggaan dan kehormatan, jika diberi kesempatan melatih timnas,” kata lelaki yang parasnya lumayan sedap dipandang mata ini.

Selain Nil, pelatih asal Padang yang mulai mencuri perhatian adalah Indra Syafri. Sukses membawa timnas U-17 juara di invitasi sepakbola U-17 tingkat Asia di Hongkong beberapa waktu lalu membuat mantan pemain dan pelatih PSP Padang ini mulai dikenal publik sepakbola Indonesia. Indra dianggap memberikan seteguk air di tengah gersangnya prestasi sepakbola nasional.

Lelaki kelahiran 2 Februari 1963, yang selama ini lebih banyak berkutat sebagai instruktur dan talent scouting di PSSI sejak Mei 2009, kini diperbantukan di timnas U-23 dan senior menjadi asisten Aji Santoso. “Terima kasih atas kepercayaan PSSI pada saya. Ini adalah lecutan buat saya untuk berbuat lebih banyak untuk persepakbolaan negeri ini,” kata Indra.

Selain Nil Maizar dan Indra Syafri, ada sosok-sosok pelatih muda asal Padang yang juga mulai dikenal, misalnya John Arwandi dan Wellyansyah. John yang saat ini asisten pelatih di Persikabo Bogor, sebelumnya juga menjadi pelatih kepala eks klub LPI, Bogor Raya FC.

Sedangkan Welly, mantan stoper beringas Semen Padang era 1980-an, namanya mencuat saat membawa Semen padang U-21 sebagai runner up ISL U-21 tahun lalu. “Saya bisa katakan, Welly adalah salah satu calon pelatih masa depan Semen Padang. Dia punya kapasitas untuk jadi pelatih yang baik, mau belajar dan pekerja keras,” kata mantan direktur teknis timnas, Sutan Harhara, yang juga pernah melatih Semen Padang musim 2007/08 lalu

*Penulis adalah Sport Editor Harian Singgalang, Padang.

Haris Tamsin

Just SPARTAN and MUFC Die Hard Fans

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *