Semen Padang FC Tour de Campoeng

MUMPUNG Semen Padang FC (SPFC) sedang rehat di Kompetisi Indonesian Premier League (IPL), tidak ada salahnya jika kita berandai-andai soal tim kebanggaan urang awak ini. Jangan sewot, berandai-andai itu sah-sah saja dan menjadi hak paling hakiki semua orang.

Tour de Campoeng

Mari kita bayangkan SPFC dijadikan klub amatir saja, dan tak perlu pusing memikirkan, apalagi ikut terlibat dalam carut-marut di PSSI, khususnya soal dualisme kompetisi yang makin tak berkeruncingan saja. Hanya menghabiskan waktu, energi, dan biaya saja.

Alangkah manisnya jika SPFC memproklamirkan diri jadi klub amatir yang berbasis hiburan. Misi utama si “Kabau Sirah” ini adalah menjajal tim-tim lokal di daerah ini. Mereka bebas melawat atau away ke kampung-kampung, datang untuk mengadu kemampuan dengan tim-tim setempat. Tak usah bingung, apalagi malu alias gengsi. Di tempat seperti itu, walau main di lapangan yang gundul disana-sini, plus bergelombang, dijamin permainan akan tetap ramai, riuh, bergairah dan mengasyikan. Tidak seperti Liga di Indonesia yang terlalu banyak aturan tak masuk akal, termasuk segala macam intrik, dan kebobrokan di dalamnya.

Di kampung-kampung, dijamin SPFC bakal dapat lawan yang sepadan. Jangan lupa, dan jangan pula remehkan pemain kampung itu. Mereka tiap pekan nonton Seri A, La Liga Spanyol, atau Liga Inggris. Bahkan sekali dua pekan bisa menikmati Liga Champions. Kemudian sekali empat tahun, mereka disuguhi Piala Dunia, Piala Eropa, Copa America, minimal Piala Afrika. Menonton sambil belajar, itulah pemain kampung. Mohon jangan keliru menilai, apalagi meremehkan. Mereka punya skill dan teknik individu mereka cukup lumayan dalam meniru permainan pemain-pemain kelas dunia. Kalau hanya meladeni permainan SPFC, rasanya mereka masih mampu.

Bermain dengan tim kampung, niscaya SP tidak sekadar dapat lawan tanding, namun akan diperoleh berbagai kenikmatan lain yang tidak mungkin di dapat dalam kompetisi PSSI. Sebut saja, pasti akan ada jamuan makanan yang disuguhkan masyarakat di kampung. Sebelum main, aneka makanan ringan, mulai dari gelamai, kolak cindue, kareh-kareh, pinyaram, atau ketan kombinasi goreng pisang raja bisa dikudap-kudap dulu.

Usai pertandingan, menu yang lebih berat sudah menunggu. Bahkan, kalau lagi musim durian, pemain SP bisa berketuntang menghampai durian sepuasnya, gratis lagi. Tak ada yang lebih menyenangkan dari “belah duren” original produk kampung.

Kalau belum puas, maklum perut pemain SPFC banyak melayu tulen, mereka merasa belum makan kalau belum ketemu nasi. Nah, mereka bisa menyantap nasi pakai randang itik, pangek bilih, atau gulai ikan gariang. Jangan lupa, ada menu pelengkap, seperti kalio jariang, sambalado incek patai, serta beragam menu kampung lainnya. Ini pun gratis coy!

Dengan asupan nutrisi yang demikian lengkap, variatif, dan tentunya gratis pula, para punggawa ‘Kabau Sirah’ akan tetap bugar dan bersemangat. Tidak perlu pula pusing-pusing memikirkan oleh-oleh untuk orang di rumah. Biasanya, saudara-saudara kita orang kampung nan lugu dan penuh kekeluargaan itu dijamin tak akan lupa membungkuskan untuk pemain tamu. Merasa berdosa mereka kalau tamu datang tak diberi buah tangan.

Itu baru urusan perut dan oleh-oleh. Banyak hal positif lain yang diperoleh SPFC jika melakukan ‘tour de campoeng’ itu. Pemain seperti Ellie Aiboy, Edu Wilson, Samsidar, Abdul Rahman, Esteban Vizcarra dan lain-lainnya, akan jadi selebritis kecil-kecilan.

Mereka bakal sibuk memenuhi permintaan tanda-tangan penggemar ciliknya di kampung. Yang lebih hot, cewek-cewek kampung dan kembang desa dengan malu-malu akan berebut minta kostum bau keringat. Asyik bukan?

Well, sesungguhnya main di kampung lebih seru dan menegangkan. Kendati tak ada prestasi atau piala, tapi unsur hiburannya lebih dominan. Itu yang penting, di zaman serba susah ini lebih baik banyak-banyak menghibur diri. Kenapa susah-susah menghamburkan banyak kepeng seperti dilakukan SPFC yang katanya untuk ikut IPL tahun ini, menyiapkan “pitih” lebih Rp15 Miliar. Dari pada mengejar prestasi yang belum tentu ujung pangkalnya, kan lebih baik menghibur diri, menghibur rakyat, irit, dan tetap bisa main bola.

Percayalah bro, main di kampung-kampung, dijamin penontonnya tidak kalah keren dengan para penonton stadion H. Agus Salim. Mereka datang dari berbagai kelas sosial. Yang tinggi status sosialnya, pasti datang dengan motor atau malah membawa mobil.

Yang namanya mobil tidak harus sekelas sedan, tapi “cigak baruak” angdes atau pick-up pembawa padi, beras, atau sayur bisa juga diusung pergi menonton oleh penduduk yang memiliki kios di pasar atau petani yang memiliki sawah laweh. Yang penting bawa mobil.

Sementara yang statusnya soseknya sedang-sedang saja, biasanya cukup berdandan rapi dengan pakaian terbagus miliknya. Sedangkan penonton yang di bawah garis kemiskinan, akan muncul dengan kain sarung lusuh kebesarannya, baju butut, terompa Japang, dan sebo tentu saja. Satu lagi, bila tur ke kampung, pemain SPFC tak perlu khawatir diteror pendukung tim lawan. Tidak akan ditemui perlakuan seperti yang kerap dialami pemain SPFC kalau away di Liga Indonesia, misalnya dihumban dengan batu, atau dilempari botol air mineral yang sudah diisi ulang dengan air kencing.

Lagi pula para “bobotoh” kampung itu tidak akan macam-macam, karena mereka tak punya mental ‘bonek’. Jika ada oknum yang bikin onar melakukan pelemparan, maka mereka harus berhadapan dengan orang sekampung. Pokoknya aman tentram jika SPFC main di kampung.

Nah, kira-kira itulah sedikit kondisi yang bakal ditemui SP jika suatu saat benar-benar berfikir untuk “back to campoeng”, kalau sekiranya Liga Indonesia dirasa tak lagi ‘menggadangkan air’ jika terus dikuti.

Tapi harap di catat, ini semua sebatas andai-andai saja. Tapi kalau ada orang Indarung yang berniat mencoba, sekalian beramal bagi-bagi semen gratis kepada masyarakat silahkan saja. Tapi kalau tidak jangan terlalu difikirkan benar. (Harian Singgalang)

Sumber: SPFC Tour de Campoeng

Rieko SP

Aku hanya seorang suporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *