Kiprah Tim Sumbar di Liga Indonesia 2010/2011

Logo Sumatera BaratSumatera Barat saat ini tidak lagi menjadi salah satu corong sepakbola tanah air. Hal itu mungkin tepat jika melihat kiprah sumatera barat pada beberapa tahun terakhir, hanya Semen Padang FC yang bertarung di kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Itupun dengan status tim promosi. Namun walaupun demikian, konsistensi penampilan yang berhasil ditunjukkan anak-anak bukit Indarung ini membawa mereka berhasil menempati posisi keempat klasemen akhir Liga Super Indonesia musim 2010/11.

Jika melihat ke belakang, sebenarnya kita pernah berjaya dalam dunia sepakbola. Setidaknya masih ada tim yang pantas dibanggakan selain Semen Padang FC, yaitu tim binaan Pemerintah Kota Padang yang bernama PSP Padang. Persatuan Sepakbola Padang pertama kali mencicipi persaingan kasta tertinggi sepakbola tanah air pada musim kompetisi 1996/97 dimana waktu itu masih bernama Divisi Utama dan babak penyisihan dibagi dalam 3 wilayah. PSP yang pertama kali didirikan pada tahun 1928 ini mendapat kesempatan tampil di Divisi Utama setelah pada musim sebelumnya menjuarai Divisi 1 Liga Indonesia. Walaupun tidak pernah mencapai tangga juara, namun setidaknya dengan adanya dua wakil Sumatera Barat di kasta tertinggi masa itu menunjukan kalau Ranah Minang cukup menjanjikan jika olahraga favorit rakyat ini dikelola dengan baik dan serius.

Namun sangat disayangkan, kiprah PSP Padang di Divisi Utama tidak bertahan terlalu lama. Tim Pandeka Minang kembali degradasi ke Divisi 1 Liga Indonesia pada tahun 2001 setelah pada klasemen akhir hanya menempati peringkat ke 13 penyisihan wilayah barat dari 14 Peserta. Tahun berikutnya PSP kembali terpuruk dengan degradasi ke Divisi 2, kontras sekali dengan Semen Padang yang berhasil meraih juara ketiga Divisi Utama. Entah apa yang terjadi pada tim PSP saat itu, yang jelas kejadian ini membuat publik Kota Padang sedikit kecewa.

Selama 3 musim PSP bertarung di Divisi 2 hingga pada tahun 2005 kembali promosi ke Divisi 1 dan sampai musim 2010/11 masih bekutat disana. Tahun ini dengan adanya reset kompetisi yang dilakukan oleh PSSI, PSP Padang mendapatkan satu slot di Divisi Utama yang saat ini menjadi level kedua liga sepakbola profesional Indonesia. “Hadiah” ini diberikan kepada PSP karena keseriusan manajemen PT. PSP Padang Minang Mandiri menjadikan klub “plat merah” milik Pemko Padang menjadi klub profesional yang tidak lagi menggunakan APBD sebagai biaya operasional mereka mulai musim ini.

Kembali ke topik permasalahan, kenapa kami memberi judul editorial kali ini Kiprah Tim-tim Sumbar di Liga Indonesia 2010/2011. Sumatera Barat sebenarnya berpeluang menjadi salah satu kiblat sepakbola Indonesia seperti halnya Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Papua jika dilakukan pembinaan yang serius dan berkesinambungan. Satu contoh kecil adalah prestasi tim PON Sumbar yang dalam dua kali pelaksanaan terakhir cukup membanggakan. Pada pelaksanaan PON 2004 Sumatera Selatan, tim Sumbar mampu mencapai babak Semifinal sedangkan pada PON 2008 di Kalimantan Timur, Sumbar mampu mencapai babak 6 Besar.

Musim ini pun tim sepakbola kita telah berhasil lolos ke babak penyisihan utama PON yang akan digelar di Riau pada September 2012 mendatang. Lolosnya tim asuhan Suprianto ini karena berhasil menjadi juara grup pada putaran pertama wilayah I Pra-Pon yang dilaksanakan 21-26 Juni lalu di Aceh. Ini bisa menjadi bukti bahwa anak-anak muda Minangkabau juga memiliki bakat sepakbola yang jika dikembangkan akan menjadi potensi yang besar. Jadi, bolehkah kita bermimpi beberapa tahun lagi Sumatera Barat bisa menjadi salah satu kiblat sepakbola Nasional?

Semen Padang FC di Liga Super Indonesia

Untuk pertama kalinya setelah pembentukan Liga Super Indonesia menjadi kasta tertinggi sepakbola tanah air sejak tahun 2008, tim Kabau Sirah kembali “naik kelas” setelah pada musim 2009/10 Semen Padang berhasil menjadi juara ketiga Divisi Utama. SPFC gagal masuk ISL pada musim pertama karena hanya menempati peringkat 16 Divisi Utama LI 2007, sedangkan zona ISL adalah peringkat 1 sampai 9. Itulah sebabnya Kabau Sirah harus berjuang dulu selama dua musim untuk kembali ke kasta tertinggi.

Berlabel tim promosi, SP sebenarnya tidak begitu diperhitungkan mampu bertahan di ISL. Bahkan manajemen sendiri hanya menargetkan untuk bertahan di ISL. Namun pandangan pesimistis masyarakat langsung berubah setelah pada laga perdana berhasil menahan imbang juara musim 2008/2009 Persipura 1-1 dan mengalahkan tim kuat Papua lainnya, Persiwa Wamena dengan skor 3-0 di kandang sendiri. Selanjutnya dua kemenangan berturut-turut kembali dicapai ketika berhadapan dengan PSPS Pekanbaru dan Persija Jakarta dengan skor 1-0. Bahkan anak asuh Nil Maizar ini pernah mencicipi puncak klasemen sementara setelah pada laga ke-9 menekuk Pelita Jaya dengan skor tipis 1-0.

Kosistensi penampilan Elie Aiboy dkk membuat manajemen merubah target pada paruh pertama musim. Saat itu Asdian, manajer tim Semen Padang menerangkan bahwa manajemen menginginkan SP finish di zona Asia klasemen Akhir. Namun sayangnya dua laga berat di akhir musim menghadapi raksasa Papua, Persiwa Wamena dan Persipura di kandang mereka menanti SP. Beruntung, tim kebanggaan Ranah Minang ini berhasil merebut dua poin dari dua kali seri dan akhirnya menempati posisi keempat klasemen akhir Liga Super Indonesia musim 2010/11. Hasil ini patut diacungi jempol mengingat hanya SPFC dan Persiwa yang mampu mencuri poin di kandang Persipura.

PSP Padang di Divisi 1 Liga Indonesia

PSP Padang masih berkutat di Divisi 1 Liga Indonesia pada musim lalu. Babak penyisihan yang diselenggarakan Stadion Kampung Rempak, Siak pada 26 September sampai 10 Oktober 2010. PSP Padang tergabung di grup II bersama PS Siak, PSPP Padang Panjang, PS Bangka, Persibabar Bangka Barat dan Persires Rengat. Pada babak penyisihan ini PSP berhasil menduduki posisi runner-up dengan 10 poin hasil dari menang 2-1 dari Persires, kalah 0-1 dari PSPP, menang 2-0 atas Persibabar, imbang 0-0 atas PS Siak dan terakhir menang 2-1 atas PS Bangka. Dengan hasil ini PSP berhak maju ke babak kedua Liga Divisi 1.

Pada babak kedua PSP tergabung di grup 1 bersama PSGL Gayo Luwes, PSBL Langsa dan PS Siak. Babak penyisihan kedua ini diselenggarakan di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren tanggal 3-9 November 2010. Pada pertandingan pertama, 4 November PSP menelan kekalahan dari PSBL dengan skor 0-2. Pada pertandingan kedua, PSP kembali harus mengakui keunggulan PSGL dengan skor 0-1. Kekalahan dua kali ini membuat peluang PSP tertutup ke babak selanjutnya meskipun menang pada laga terakhir melawan PS Siak. Hal ini membuat manajemen PSP memilih untuk tidak melaksanakan pertandingan terakhir bersama PS Siak. Kedua tim tidak hadir di lapangan. Sesuai aturan keduanya dikurangi nilainya 3, dan diberikan gol kemasukan masing-masing 3 gol.

PSPP Padang Panjang di Divisi 1 Liga Indonesia

Keikutsertaan PSPP Padang Panjang di Divisi 1 pada musim 2010/11 harusnya menjadi musim kedua tim kebanggaan masyarakat Kota Serambi Mekah ini. Sebelumnya pada musim 2009/2010 PSPP dan juga PSP mengundurkan diri karena bencana Gempa Sumbar. Namun karena alasan force majeure bencana ini, kedua tim tidak harus degradasi ke Divisi 2. PSPP Promosi ke Divisi 1 karena pada pelaksanaan Divisi 2 tahun 2008/09 berhasil promosi setelah mencapai babak 16 besar. Jadilah musim 2010/11 ini menjadi penampilan perdana mereka di kasta tertinggi sepakbola amatir Indonesia.

Babak penyisihan Divisi 1 2010/11 PSPP juga tergabung di grup II bersama PSP Padang, PS Siak, PS Bangka, Persibabar Bangka Barat dan Persires Rengat. PSPP menempati posisi ketiga klasemen akhir dan gagal lolos ke babak selanjutnya. Hasil pertandingan PSPP yaitu imbang 0-0 dengan PS Bangka, menang 1-0 terhadap PSP Padang, imbang 2-2 dengan Persibabar, menang 2-1 terhadap Persires dan kalah 0-2 dengan PS Siak. Dari hasil ini PSPP Padang Panjang harus puas mengumpulkan 8 poin.

Persiju Sijunjung di Divisi 1 Liga Indonesia

Persiju Sijunjung berhasil promosi ke Divisi 1 setelah pada musim 2009/10 bertarung di Divisi 2 Liga Indonesia. Pada musim 2010/11 Persiju tergabung di Grup III Penyisihan Divisi 1 bersama PSGL Gayo Luwes, PSBL Langsa, PSSA Asahan dan Persebsi Sibolga. Namun Persebsi akhirnya mengundurkan diri sehingga hanya ada empat tim yang bertarung di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren tanggal 26 September sampai 3 Oktober 2010.

Dalam babak penyisihan ini, Persiju gagal menunjukkan penampilan terbaik karena hanya mampu mendulang satu poin dari tiga kali laga. Satu poin itu menempatkan Persiju di dasar klasemen akhir.

PS Pasbar Pasaman Barat, Persis Solok dan Perpessel Pesisir Selatan di Divisi 2 Liga Indonesia

Divisi 2 Liga Indonesia musim 2010/11 merupakan kompetisi kelompok umur u-23. Ada 3 tim Sumbar yang berpartisipasi yaitu PS Pasbar, Persis dan Persepessel. Namun sayangnya Persepessel yang tergabung di grup V penyisihan mengundurkan diri dari kompetisi.

Persis Solok tergabung dalam grup III penyisihan Divisi 2 bersama Persikalis Bengkalis, Persiks Kuantan Singingi, Persibri Batanghari dan PS Muaro Jambi. Namun PS Muaro Jambi mengundurkan diri sehingga hanya empat tim yang menjalani pertandingan penyisihan di Stadion Rumbai, Pekanbaru pada 25-28 Juli 2010. Persis gagal melaju ke babak selanjutnya setelah pada klasemen akhir berada di posisi ketiga dengan perolehan 2 poin, hasil dari imbang 1-1 dengan Persiks, imbang 2-2 dengan Persibri dan kalah 2-1 dari Persikalis.

Sementara PS Pasbar mencatatkan prestasi yang lebih baik. Pada babak penyisihan tim ini tergabung dengan PS Poslab Labuhan Batu, PS Kerinci dan PS Serdang Begadai di grup IV. Pada pertandingan yang dilaksanakan di Gelora Bukik Bunian, Agam 25-30 Juli 2010 PS Pasbar mampu menjadi runner-up grup dan melaju ke babak selanjutnya. PS Pasbar berhasil mengumpulkan 5 poin hasil dari menang 1-0 atas Kerinci, imbang 0-0 atas Serdang Begadai dan imbang 0-0 dengan Poslab.

Pada babak kedua, PS Pasbar tergabung di grup C bersama PS Bungo dan PS Bangko. Pertandingan dilaksanakan di Stadion Serunai Baru, Bungo pada 2-4 Oktober 2010. Pada babak kedua ini Pasbar kembali menempati posisi runner-up dan lolos ke babak berikutnya. Pasbar mengumpulkan 1 poin hasil imbang 1-1 dengan PS Bangko dan kalah 0-2 dari PS Bungo. Pasbar menjadi runner-up karena unggul selisih gol dengan PS Bangko yang juga mengumpulkan 1 poin.

Pada babak ketiga, Pasbar tergabung di Grup K bersama Persal Aceh Selatan, PS Bungo, Persiks Kuantan Singingi, PS Pidie Jaya dan Poslab Labuhan Batu. Pada babak ini setiap tim memperebutkan jatah 4 teratas klasemen untuk lolos ke babak 12 besar sekaligus tiket promosi ke Divisi 1. Namun sayangnya sampai tahap ini Pasbar hanya mampu menempati peringkat ke lima klasemen dengan perolehan 4 poin. Pada pertandingan yang dilaksanakan di Stadion Sport Center, Kuantan Singingi tanggal 10-19 November 2010 itu, Pasbar menang 2-1 atas Poslab, kalah 0-3 atas Persiks, kalah 1-2 dengan PS Bungo, imbang 1-1 dengan Pidie Jaya dan kalah 1-0 dari Persal.

Klub Sumbar di Divisi 3 Liga Indonesia

Divisi 3 Liga Indonesia musim 2010/11 adalah kompetisi kelompok umur U-21 dan babak penyisihannya dibagi dalam zona-zona provinsi. Zona Sumatera Barat terdapat 6 tim yang bartanding dan dibagi menjadi dua grup. Grup A diisi oleh GAS Sawahlunto, PSKB Bukittinggi dan Persepar Pariaman. Sedangkan Grup B dihuni PSKPS Pasaman, Persepak Payakumbuh dan PSLA Sicincin. Sayangnya wakil Lubuk Alung PSLA Sicincin didiskualifikasi oleh PSSI Sumbar. Empat tim terbaik maju menuju babak 4 besar yang diselenggarakan di Lapangan Univ. Negeri Padang pada 7-8 Agustus 2010 dan menghasilkan Persepak Payakumbuh sebagai juara Zona Sumbar. Selain itu keempat wakil ini juga berhak mewakili Sumbar ke babak selanjutnya.

Pada babak kedua, pembagian zona/wilayah diperluas menjadi pulau dan Sumatera dibagi kedalam 6 grup. PSKB Bukittinggi dan Persepak Payakumbuh tergabung dalam grup III zona Sumatera bersama Persati Kualatimpang dan PSKPS Pasaman. Namun Persati dan PSKPS mengundurkan diri sehingga PSKB dan Persepak berhak maju ke babak berikutnya. Dalam pertandingan yang dilaksanakan di Stadion Air Bang, Kota Curup Bengkulu pada 20 November 2010, PSKB mampu menahan imbang Persepak dengan skor 2-2. Untuk menentukan juara grup dilakukan adu pinalti yang dimenangkan oleh PSKB dengan skor 4-2.

Sementara itu GAS Sawahlunto tergabung dalam Grup IV Zona Sumatera bersama PS PLN Jambi, PS Merangin dan PS Markuban. Pertandingan dilaksanakan di Stadion Masurai, Bangko. Namun, GAS hanya mampu menempati posisi juru kunci dengan poin 0 dari 3 kali kekalahan.

Memasuki babak ketiga Divisi 3, dua wakil Sumbar yang tersisa tadi tergabung di Grup XVIII Zona Sumatera bersama Thamrin Graha Metropolitan, Bintang Jaya Asahan, Persijaya Aceh Jaya dan Persip Pasee. Namun sayang pada laga yang dilangsungkan di Kompleks Thamrin Graha Metropolitan, Medan Helvetia tersebut PSKB Bukittinggi hanya berhasil menempati posisi ketiga klasemen akhir, sedangkan Persepak terpuruk di dasar klasemen dan membuat langkah mereka terhenti.

Bagaimana dengan musim kompetisi 2011/12?

Hasil kongres PSSI pada bulan Januari 2011 di Bali serta rentetan rapat komite Eksekutif PSSI yang baru terbentuk hasil Kongres Luar Biasa (KLB) Solo 9 Juli 2011 lalu merubah secara drastis format kompetisi sepakbola tanah air. Sebagaimana diketahui, dalam SK No.08/KONGRES-II/PSSI ditetapkan format kompetisi 2011-2012 berisi 18 klub yang berlaga di ISL, 44 klub yang dibagi 4 wilayah untuk Divisi Utama, 66 klub Divisi I, dan 100 klub untuk Divisi II serta Divisi III dengan jumlah klub tidak terhingga.

Dalam perkembangannya, PSSI melalui serangkaian rapat komite eksekutif melakukan reset kompetisi sehingga melahirkan Indonesian Premier League sebagai kasta tertinggi sepakbola profesional Indonesia menggantikan Indonesia Super League, serta mengganti pelaksana kompetisi dari PT. Liga Indonesia (LI) menjadi PT. Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS). Awalnya setelah melakukan pendataan ulang klub-klub profesional di Indonesia serta melakukan verifikasi ditetapkan 24 klub termasuk Semen Padang FC sebagai peserta IPL namun seiring perkembangan beberapa klub mengundurkan diri sehingga saat ini tersisa 12 klub saja.

Sementara itu untuk level kedua kompetisi profesional tetap menggunakan nama Divisi Utama dengan peserta awal sebanyak 36 klub dibagi menjadi 3 wilayah. Namun sesuai pertemuan terakhir para manajer klub-klub DU diketahui jumlah peserta juga berkurang manjadi 27 tim  dan tetap dibagi menjadi 3 wilayah. Dengan adanya reset kompetisi ini memberikan kesempatan kepada PSP Padang yang telah bertransformasi menjadi klub profesional yang lepas dari APBD untuk tampil di Divisi Utama.

Untuk kompetisi amatir, penambahan jumlah peserta juga memberikan “promosi gratis” kepada beberapa klub berdasarkan peringkat musim lalu. Dari hasil keputusan PSSI, tercatat 3 klub Sumbar menjadi calon peserta Divisi 1, yaitu PSPP Padang Panjang yang musim lalu memang berada di Divisi 1, ditambah PS Pasbar dan Persiju Sijunjung yang promosi dari Divisi 2. Sedangkan untuk calon peserta Divisi 2, terdapat Persis Solok yang memang sebelumnya berada di Divisi 2, ditambah PSKB Bukittinggi, Persepak Payakumbuh dan GAS Sawahlunto yang promosi dari Divisi 3. Sedangkan untuk calon peserta Divisi 3 akan ditetapkan oleh pengurus Pengprov Sumbar karena babak penyisihan awal dilakukan berdasarkan zona provinsi.

Semoga ini bisa menjadi awal kebangkitan sepakbola Sumatera Barat.

Rieko SP

Aku hanya seorang suporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.