Ketika “Kabau Sirah” Merenda Asa

Nil Maizar (Courtesy of Facebook)

TIGA puluh satu tahun, itulah usia tim sepakbola Semen Padang FC saat ini. Untuk ukuran klub Indonesia, usia itu tergolong sudah tua. Diluar tim-tim yang berstatus bonden di jaman perserikatan, Semen Padang FC adalah satu dari sedikit klub sepakbola murni yang bisa bertahan sampai usia tersebut.

Dalam usia dan rentang waktu panjang yang telah dilalui itu, klub dari Kota Padang ini sudah kenyang melewati berbagai dinamika kompetisi sepakbola Indonesia sejak era 1980-an, yang terkadang penuh penuh rintangan, lengkap dengan berbagai intrik didalamnya. Tapi semua kendala itu itu tak sanggup memadamkan eksistensi klub yang satu ini.

Jika diibaratkan manusia, 31 tahun seharusnya adalah usia emas yang produktif, mapan, mandiri, dewasa dalam bertindak, dan matang dalam mengambil keputusan. Semen Padang FC pun ingin begitu, stelah mereka berhasil melewati masa-masa sulit. Kini “Kabau Sirah” bersiap menyongsong era baru mereka.

Detik ini, Semen Padang telah menjadi salah satu klub sepakbola profesional di negeri ini. Mungkin ini saatnya bagi Semen Padang FC untuk menampilkan diri menjadi klub yang besar, mapan, mandiri dan berprestasi di jagat sepakbola negeri ini.

Musim lalu, sedikit pembuktian telah diberikan, ketika mereka menjejakan kaki untuk pertama kali di level tertinggi kompetisi negeri ini. Tidak sekadar partisipasi tim debutan, tapi mereka mampu menjawabnya dengan prestasi, menempati peringkat empat di akhir kompetisi.

Sebuah capaian yang menakjubkan dari sebuah tim debutan dan miskin pemain bintang. Tidak banyak resep khusus Semen Padang meraih hal itu. Kuncinya hanya kebersamaan, plus etos kerja yang bagus, dan dibungkus sikap profesional dari seluruh perangkat tim. Tentunya juga dukungan manajemen yang sehat dan profesional.

Kini, ketika manajemen memancang target juara pada musim kompetisi 2011/12, adalah sebuah kewajaran yang lahir dari pemikiran matang dan penuh pertimbangan yang rasional. Dan sesuatu yang amat masuk akal pula kalau musim depan Semen Padang berani merenda asa jadi juara di tengah persaingan kompetisi yang diharapkan sportif dan harmonis dalam era kepengurusan PSSI yang juga dinilai reformis. Ketika kemenangan di lapangan akan ditentukan oleh faktor teknis di lapangan, bukan lagi dari hasil “ngemis” kepada pemegang kekuasaan, seperti yang lazim terjadi pada era kepengurusan sebelumnya.

Semen Padang FC jelas tak ingin disebut bermimpi di siang bolong, karena mereka serius merangkai asa tinggi itu. Ketika tim lain masih sibuk berkutat dengan masalah legalitas, dana, dan problem internal mereka, Semen Padang FC sudah memulai persiapan mereka.

Langkah pertama, ketika persyaratan non teknis sesuai regulasi PSSI dan AFC dipenuhi dengan sigap, mereka juga sudah sibuk menggelar latihan pramusim ketika tim lain belum melakukan apa-apa.

Rekrutmen dan kepastian kontrak pemain berjalan mulus dan jelas, tanpa gembar-gembor. Semen Padang sudah melakukan langkah bijak merekrut pemain bintang, selain mempertahankan materi sebelumnya yang dinilai menjadi bagian penting dan pemberi kontribusi berarti. Ini tentu tidak mengabaikan potensi “lokal” berkualitas sebagai jalinan rasa memiliki dan dimiliki, yang berkaitan dengan ikatan primordial dan emosional publik.

Dana, faktor lain yang selama ini menjadi masalah klasik bagi sebagian besar klub sepakbola di Indonesia, juga bukan masalah pelik bagi Semen Padang. Melalui PT Kabau Sirah Semen Padang (KSSP), meski nominalnya tak terlalu wah dan glamour, hanya berkisar Rp20-an miliar, tapi itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional klub untuk berkompetisi dengan nyaman. Begitupun untuk kontrak, gaji, dan bonus yang menjadi hak pemain, senantiasa dibayarkan tepat waktu. Tidak pernah ada masalah.

Mungkin minus kecil Semen Padang hanya soal infrastruktur atau stadion. Meski masih menggunakan fasilitas milik pemerintah Provinsi Sumatra Barat, tapi sementara ini Stadion H. Agus Salim juga sudah memenuhi kelayakan minimal sebuah stadion sepakbola berstandar nasional. Sembari berjalan, Semen Padang sudah merancang proyek “mercu suar” mereka, menjadi tim pertama di Indonesia yang punya stadion milik sendiri.

Tidak kalah penting, aspek “sporting” yang kebanyakan diabaikan oleh tim-tim lain, Semen Padang sejak era 1990-an, sudah melakukannya dengan teratur dan rapi. Pembinaan berjenjang dan tingkat usia, sudah menjadi bagian penting komitmen Semen Padang membina sepakbola daerah dan untuk menopang kebutuhan akan pemain lokal. Secara bergilir mantan-mantan pemain era 1980-90 an diberi tugas melatih tim-tim suporting berbagai tingkatan usia ini dengan teratur.

Hasilnya, keberhasilan tim SP U-21 menjadi finalis Superliga U-21 musim lalu, bukanlah sesuatu yang mengherankan. Begitu juga ketika enam pemain U-21 itu masuk tim senior musim ini, itu hanyalah “buah manis’ yang dipetik Semen Padang dari pembinaan serius dan berkesinambungan yang mereka lakukan.

Dengan semua faktor diatas, Semen Padang sepertinya sudah berada dijalur yang tepat untuk benar-benar menjadi sebuah klub sepakbola profesioanl dalam arti yang sebenarnya. Seharusnya tak ada lagi yang meragukan langkah profesional SP ke depan. Mereka adalah klub yang sejak lahir tak pernah merasakan sentuhan amatir, dan terbukti mampu mempertahankan eksistensinya dalam kancah sepakbola
Indonesia sejak era galatama tahun 1980-an era.

Hanya Pelita Jaya yang jadi saudara seusia dengan pasukan dari Bukit Karang Putih ini. Selebihnya seperti Perkesa 78, Niac Mitra, Pardedetex, Mercu Buana, Tunas Inti, Warna Agung dan lain-lainnya, sudah lama tutup buku. Bahkan tim galatama generasi sesudah itu, kecuali Arema Malang, tim-tim seperti Assyabab SG, Lampung Putra, Mitra Surabaya, Bandung Raya, Palu Putra, dan lain-lainnya juga sudah tenggelam ketika “hukum alam” berlaku atas mereka.

Memang Semen Padang hanyalah tim dengan reputasi bersahaja dan lemari yang tak terlalu banyak diisi trophy, tapi mereka punya sesuatu yang berharga. Apalagi kalau bukan tekad kuat dan keseriusan untuk terus berbenah dan maju menggapai cita-cita.

Mereka ingin lebih baik dari sekedar menjuarai Divisi I Galatama tahun 1982, juara Piala Liga 1992, lolos ke 10 besar musim kompetisi 1998-1999, sekaligus terpilih sebagai tim Fair Play, semifinal Liga Indonesia 2002, dan terakhir empat besar Superliga musim lalu. Semua itu dijadikan alat penyemangat dan pendorong untuk meraih hasil lebih baik di masa depan.

Seperti yang disampaikan manajemen SP, izinkan SP merenda asa menjadi juara kompetisi profesional Indonesia untuk pertama kalinya. Asa juara yang ingin diraih dengan keseriusan, kerja keras, dan profesionalisme tinggi. Bukan gelar juara yang ingin diraih dengan cara menabrak “kata suci” dalam dunia olahraga, fair play!

*Penulis adalah Sport Editor Harian Singgalang, Padang.

Rieko SP

Aku hanya seorang suporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.